Strategi Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dan Menuntut Keadilan atas Kerugian

💥 Strategi Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dan Menuntut Keadilan atas Kerugian - Mata Elang Law Firm & Partners

Strategi Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dan Menuntut Keadilan atas Kerugian


 

💥 Dalam kehidupan sosial, kerugian tidak selalu timbul dari pelanggaran kontrak atau perjanjian (Wanprestasi). Seringkali, kerugian diderita akibat tindakan sepihak, kelalaian, atau perbuatan yang melanggar hak orang lain, meskipun tidak ada ikatan perjanjian sebelumnya. Inilah yang dalam hukum perdata dikenal sebagai Perbuatan Melawan Hukum (PMH), atau Onrechtmatige Daad.

 

Mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum adalah mekanisme yang disediakan oleh negara untuk memulihkan hak dan menuntut Ganti Rugi PMH atas kerugian yang timbul. Mata Elang Law Firm & Partners, dengan pengalaman mendalam sebagai Advokat Litigasi terdepan, berkomitmen untuk memastikan setiap tuntutan PMH yang kami ajukan memenuhi lima unsur esensial yang diwajibkan oleh undang-undang. Artikel ini akan mengupas tuntas dasar hukum PMH, strategi pembuktiannya, dan mengapa bantuan profesional sangat diperlukan.

 

I. Pilar Hukum Perbuatan Melawan Hukum (PMH)

Dasar hukum utama Gugatan Perbuatan Melawan Hukum terdapat pada Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Pasal ini secara tegas menyatakan bahwa: “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”

 

Berbeda dengan Wanprestasi yang bersumber dari perjanjian yang sudah ada, PMH muncul dari tindakan yang melanggar tata tertib hukum.

 

Lima Unsur Mutlak PMH

Agar suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai PMH dan gugatan dapat dikabulkan, penggugat wajib membuktikan kelima unsur ini secara kumulatif di muka pengadilan:

 

Adanya Perbuatan Melawan Hukum 

Tindakan tersebut dapat berupa melanggar hak subjektif orang lain, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku, bertentangan dengan kesusilaan, atau bertentangan dengan kepatutan/kehati-hatian dalam masyarakat.

 

Adanya Kesalahan (Sebab) 

Pelaku melakukan perbuatan itu dengan unsur kesengajaan atau kelalaian yang dapat diperhitungkan kepadanya.

 

Adanya Kerugian 

Penggugat harus mengalami kerugian nyata, baik kerugian materiil maupun imateriil.

 

Adanya Hubungan Kausalitas (Sebab-Akibat) 

Harus ada hubungan langsung yang tidak terputus antara perbuatan melawan hukum yang dilakukan Tergugat dengan kerugian yang dialami Penggugat.

 

Kewajiban Ganti Rugi 

Dengan terpenuhinya keempat unsur di atas, maka secara otomatis timbul kewajiban bagi pelaku untuk mengganti kerugian.

 

II. PMH vs. Wanprestasi: Perbedaan Krusial dalam Hukum Acara Perdata

Membedakan secara tepat antara PMH dan Wanprestasi adalah langkah strategis pertama yang krusial. Dalam Hukum Acara Perdata, salah memilih dasar gugatan (disebut error in causa) dapat mengakibatkan gugatan tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard / N.O.).

 

Berikut adalah pemahaman kunci mengenai perbedaan kedua dasar gugatan ini:

 

Sumber Kewajiban 

Pada Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH), kewajiban ganti rugi muncul karena adanya pelanggaran terhadap undang-undang atau norma sosial, terlepas dari ada atau tidaknya kontrak. Sebaliknya, pada Wanprestasi, kewajiban ganti rugi muncul karena adanya pelanggaran terhadap isi perjanjian yang telah disepakati.

 

Kebutuhan Somasi 

PMH tidak memerlukan Somasi (Surat Teguran Hukum) sebelumnya, karena sifat melawan hukum dari perbuatan tersebut sudah dianggap sebagai kelalaian yang sah. Sementara itu, Wanprestasi umumnya memerlukan Somasi agar debitur dinyatakan lalai secara hukum (kecuali ada klausul fatale termijn).

 

Fokus Pembuktian 

Dalam PMH, fokus pembuktian oleh Advokat Litigasi adalah membuktikan kelima unsur PMH secara bersamaan, terutama unsur kesalahan dan kausalitas. Dalam Wanprestasi, fokus pembuktian lebih kepada eksistensi perjanjian, adanya pelanggaran, dan kerugian yang timbul dari pelanggaran tersebut.

 

III. Strategi Litigasi Mata Elang Law Firm dalam Mengajukan PMH

Karena PMH lebih sulit dibuktikan dibandingkan Wanprestasi, Mata Elang Law Firm merancang strategi PMH dengan fokus pada pembuktian kausalitas dan kesalahan yang tak terbantahkan:

 

A. Pembuktian Kausalitas dan Kerugian

Tim kami fokus mengumpulkan bukti-bukti yang secara definitif menghubungkan tindakan Tergugat dengan kerugian Penggugat. Kami memastikan klaim Ganti Rugi PMH meliputi:

 

Kerugian Materiil 

Kerugian nyata yang dapat dihitung (misalnya, biaya perbaikan, biaya pengobatan, atau hilangnya keuntungan yang terhalang).

 

Kerugian Imateriil 

Kerugian non-fisik seperti penderitaan mental, hilangnya reputasi, atau tekanan psikologis. Kami menuntut ganti rugi imateriil ini dengan mengajukan sejumlah uang yang wajar dan adil (patut en billijk) yang didukung oleh putusan-putusan pengadilan terdahulu.

 

B. Menetapkan Sifat Melawan Hukum

Kami menggunakan yurisprudensi dan doktrin hukum untuk menegaskan bahwa tindakan Tergugat secara tegas melanggar hak dan kewajiban hukum. Ini krusial dalam kasus-kasus di mana perbuatan tersebut tidak diatur secara eksplisit dalam undang-undang tertulis, namun melanggar kepatutan dan kehati-hatian dalam masyarakat (melawan hukum dalam arti tidak tertulis).

 

IV. Peran Kunci Advokat Litigasi dalam Kasus PMH

Mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum menuntut keterampilan analisis dan kehati-hatian yang tinggi. Sebagai Advokat Litigasi yang fokus pada presisi, Mata Elang Law Firm & Partners menjamin bahwa:

 

Analisis Dasar Gugatan yang Tepat 

Kami memastikan tidak terjadi error in causa dengan secara cermat membedakan apakah sengketa tersebut termasuk PMH atau Wanprestasi sebelum mendaftarkan perkara.

 

Pembuktian Unsur Kesalahan yang Kuat 

Membuktikan adanya unsur kesalahan (kelalaian atau kesengajaan) dari pihak Tergugat memerlukan strategi pembuktian yang canggih, seringkali melibatkan saksi ahli dan bukti surat yang spesifik.

 

Pengawalan Proses Khusus PMH 

PMH seringkali melibatkan sengketa yang kompleks seperti sengketa tanah (penyerobotan), sengketa lingkungan, hingga kasus pencemaran nama baik. Kami mengawal proses ini dengan pemahaman mendalam tentang praktik hukum perdata yang berlaku.

 

Jika hak Anda telah dilanggar dan Anda menderita kerugian akibat tindakan pihak lain, jangan ragu untuk menuntut keadilan. Gugatan Perbuatan Melawan Hukum adalah jalan Anda untuk mendapatkan kompensasi penuh. Percayakan penanganan kasus PMH Anda kepada Advokat Litigasi di Mata Elang Law Firm & Partners.

Instagram

Mata Elang Law Firm & Partners | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi